News Update :

Tekno

Kuliner

Politik

Ekbis

Pendidikan

Opini

Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Presiden Soekarno ternyata pencentus awal renovasi Masjidil Haram

Selasa, 23 Juli 2013

DARMONEWS.COM - Presiden pertama Indonesia, Soekarno disebut-sebut menyumbangkan ide arsitekturalnya dalam renovasi Masjidil Haram. Ide tersebut tercetus saat Soekarno menunaikan ibadah Haji.

Saat Soekarno menunaikan ibadah Haji, dia tidak melewatkan perhatiannya terhadap kondisi Masjidil Haram di Makah. Sebagai seorang arsitek, Soekarno tergerak untuk memberikan sumbangan ide arsitektural kepada Pemerintah Arab Saudi agar membuat bangunan untuk melakukan  salah satu ritual haji yaitu Sa'i, menjadi dua jalur dalam bangunan dua lantai.

"Semula bangunan tersebut tidak bertingkat. Begitu jamaahnya setiap tahun bertambah, semakin padat, akibatnya menyengsarakan bagi para jamaah. Usulan Bung Karno sebagai seorang insinyur sipil sangat tepat untuk mengatasi kesumpekan itu," kata Profesor Tata Kota Eko Budiharjo seperti dikutip dalam buku "Bung Karno Sang Arsitek" karya Yuke Ardhiati, Selasa (23/7/2013).

Nampaknya, ide arsitektural tersebut menular hingga kini. Meskipun bukan lagi penyumbang ide, kontraktor asal Indonesia menjadi subkontraktor dalam renovasi Masjidil Haram tersebut.

PT Wijaya Karya Tbk bekerjasama dengan Bin Laden Construction untuk mengerjakan proyek renovasi yang pada tahap pertama bernilai Rp92 miliar. Bin Laden Construction merupakan kontraktor terbesar di Arab. Bahkan, mereka memiliki hak prerogatif atas renovasi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Tak hanya Waskita Karya, perusahaan BUMN lainnya, yaitu PT Wijaya Karya Tbk, juga tak mau kalah. Perusahaan tersebut saat ini sedang melakukan negosiasi untuk pengembangan kawasan di Masjidil Haram.

Pengembangan kawasan tersebut adalah pembangunan tujuh tower hotel yang masing-masing tower terdiri dari 1.000 kamar hotel. Tak tanggung-tanggung, nilai proyek tersebut mencapai Rp2 triliun. 
(wdi)

Baca Juga Artikel Menarik Lainnya :

Si cantik di balik BonChon Indonesia

Sabtu, 20 Juli 2013

Michelle E. Surjaputra. Itulah namanya. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, gadis muda nan manis ini sudah punya bisnis yang lumayan bagus: restoran cepat saji asal Korea, BonChon Chicken.

Inspirasi mengembangkan bisnis ini diperolehnya saat menempuh studi di Amerika Serikat. “Saat kuliah, setidaknya saya dua kali sebulan nongkrong di BonChon. Di New York ada sekitar tujuh gerai BonChon,” ujar kelahiran Jakarta 15 November 1988 yang lulusan New York University- Leonard N. Stern School of Business ini.

Namun, Michelle tak langsung membawa BonChon. Sekembalinya ke Indonesia, dia sempat magang di perusahaan ayahnya. Juga, pernah magang di AXA Advisory, Bank Indonesia dan UBS. Ide BonChon baru muncul saat mengunjungi mal-mal di Jakarta. “Saya pikir, kenapa tidak saya bawa BonChon ke Indonesia? Apalagi, di Indonesia sedang tren yang serba Korea dan orang Indonesia suka makan ayam,” kata Michelle mengenang.

Awalnya, dia agak grogi berbisnis karena tak punya pengalaman sama sekali dengan waralaba. Lantas, mengapa tak bergabung dengan bisnis orang tua? “Bisnis orang tua bidang manufaktur metal. Itu bukan bidang saya. Saya lebih suka industri gaya hidup,” ungkapnya.

Mantap dengan pilihannya, dia pun mencoba memberanikan diri menulis minat bekerja sama yang dikirimkan ke pihak BonChon Chicken melalui website. Apa respons mereka? Rupanya, menurut GM-nya, BonChon sudah sering menerima tawaran permohonan master franchise untuk di Indonesia. “Tetapi, saya diberi kesempatan membuat business plan,” katanya. Beruntung, Michelle sangat terbiasa membuat business plan, sehingga dia bisa membuat setebal 50 halaman hanya dalam tiga hari. “Mereka terkesan dengan proposal saya,” dia mengenang.

Akhirnya, segalanya berlangsung cepat dan seperti sebuah keajaiban. Begitulah kesan Michelle. Agustus 2011, dia memasukkan proposal, Oktober sudah diminta ikut pelatihan, bulan November keluar izin, dan di bulan Januari 2012 gerai pertama BonChon di Jakarta dia buka. Cukup cepat. Gerai pertama BonChon Chicken dibuka di Grand Indonesia di bawah naungan PT Michelindo Food International sebagai pemegang master franchise BonChon Chicken untuk Indonesia.

Setelah itu, Michelle bergerak cepat. Bersama kawan-kawannya yang bertindak sebagai investor, dia segera beraksi. “Saya dan beberapa teman. Tetapi, tak sampai lima orang,” katanya. Bermula dari Grand Indonesia, BonChon kini berjumlah tujuh gerai yang tersebar di mal-mal kelas atas seperti City Walk Sudirman, Living World Alam Sutera, Supermal Karawaci, Gandaria City, Central Park dan Kota Kasablanka. Setelah itu, akan segera menyusul gerai di Kemang Village dan Beachwalk Bali.

Menyasar segmen pelanggan kelas A dan B, Michelle menjelaskan, keunikan BonChon terletak pada kesegaran bahan makanannya, termasuk dapur. “Di sini ayamnya tidak ada proses pembekuan, tak menggunakan bahan kimia dalam bumbu ayam,” ujarnya penuh bangga.

Menurut Utomo Njoto, pengamat waralaba, kalau BonChon ingin kian membesar, akan lebih cocok bermain di segmen menengah ketimbang di segmen A. “Penetrasi mereka cukup cepat. Tidak mudah untuk secara konsisten buka satu gerai per bulan,” katanya. Namun untuk menjadi bisnis yang solid, Utomo menyarankan Michelle lebih memperkuat dari sisi organisasi dan tim, apalagi bila hendak menjalankan sub-franchising. “Butuh kemampuan sistem, infrastruktur organisasi dan pembiayaan,” ujar Utomo.


Saran Utomo sangat mengena. Bagi Michelle, tantangan terbesar untuk mengembangkan bisnisnya adalah bagaimana memastikan BonChon Indonesia bisa mengikuti standar BonChon internasional. Dia ingin menjadikan BonChon Indonesia sebagai BonChon terbaik di dunia. Untuk itulah, dia intens terlibat dalam operasional perusahaan. Dia selalu rapat setiap pagi di kantor dan setiap gerai dia datangi setidaknya dua kali dalam sebulan. Michelle berencana akan terus berekspansi dan setiap bulan membuka satu gerai baru. (swa)

Baca Juga Artikel Menarik Lainnya :

Kemampuan anak meningkat setelah nonton tv

Rabu, 26 Juni 2013

DARMONEWS.COM,Jakarta- Tim peneliti dari University of London, Inggris, menemukan anak-anak yang menonton televisi lebih dari tiga jam dalam sehari selama tiga bulan telah meningkat kemampuan akademisnya.
Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang menyatakan, anak-anak yang sering menonton televisi justru akan menurun kemampuan akademisnya.
Penelitian ini juga menemukan, aturan orangtua yang memaksa anak untuk meningkatkan kemampuan akademis dengan mengatur jam makan, tidur, dan menonton televisi, hanya akan membuat perbedaan kecil dalam kemampuan akademis anak.
Menurut Alice Sullivan, Akademik Senior di Institute of Education, University of London, jangan meremehkan nilai-nilai pendidikan yang ada di televisi.
"TV telah membantu anak menemukan kosa kata baru yang tidak didapatkan di dalam rumah," kata Sullivan, dilansir Telegraph, 26 Juni 2013.
Penelitian ini juga melibatkan anak-anak dari kelas sosial yang sama, mulai dari kemampuan membaca dan menulis sampai waktu makannya, serta jam tidurnya.
"Hasilnya, kelas sosial dan pendidikan orang tua adalah faktor dominan dalam menentukan kemampuan akademis anak-anak," ujar Sullivan.
"Temuan lainnya, anak-anak yang memiliki orangtua dengan pendapatan cukup berbeda dengan orang tua yang memiliki gaji pas-pasan. Pendapatan yang lebih cukup berpengaruh pada peningkatan kemampuan akademik anak," tambahnya.
Penelitian ini meneliti 11.000 anak-anak Inggris yang berusia tujuh tahun dan menjadi program jangka panjang bernama Millennium Cohort Study. (kan/viv)

Baca Juga Artikel Menarik Lainnya :

KH Muhammad Zakki Ingin Mencetak Santri Menjadi Pengusaha

Sabtu, 28 Juli 2012

Di sela kesibukannya sebagai eksportir kopi, KH Muhammad Zakki menjadi sosok kiai sekaligus tentor wirausaha bagi 112 santri di Pesantren Mukmin Mandiri dan Agrobisnis yang didirikan, 1 April 2006.

Usianya 43 tahun. Siapa sangka kiai yang disegani ini dulunya adalah seorang petani kopi. Bahkan ilmunya sudah 'tinggi' dalam soal kopi, karena Muhammad Zakki telah menjadi pengusaha di bidang itu.

“Selain belajar agama, santri belajar mengelola usaha,”cetusnya kepada Surya ditemui di pesantrennya, kawasan Perumahan Graha Tirta, Waru, Sidoarjo.

Para santri yang kebanyakan masih kuliah di perguruan tinggi di Sidoarjo dan Surabaya itu diajari memproduksi kopi olahan hingga menjualnya ke pasar.
Ratusan santri ini diajak terlibat langsung mengolah biji hingga menjadi produk berubah kopi goreng dan kopi bubuk.

Menurut Muhammad Zakki, mereka langsung praktik menjadi tenaga pemasaran produk itu ke sejumlah pasar tradisional di seluruh Jawa Timur. Dalam sebulan, ratusan santri ini mampu memproduksi kopi goreng sekitar 20-25 ton. Ada dua merek kopi yang diproduksi para santri ini.
“Merek Makhota Raja dan Pendowo Limo,”cetus alumnus IAIN Sunan Ampel tahun 1993 yang menjadi pengurus Kadin Jawa Timur sejak tahun 2009 ini.

Para santri ini belajar selama tiga tahun. Begitu mereka lulus, pesantren tidak langsung melepasnya begitu saja. Namun tetap berhubungan dengan mereka dan mendorong agar mempraktikkan keahlian membuat kopi.

Menurut suami Etty Sriwinarti ini, pihaknya menyuplai bahan baku untuk para santri dan mendorong mereka membuka usaha di tempat asal masing-masing.

Ide mendirikan pesantren yang mendidik santrinya bermental wirausaha ini terbersit sejak menggeluti usaha kopi selama 15 tahun silam. Namun niat itu baru tercetus ketika dirinya menunaikan ibadah haji pada 2004 lalu.

Muhammad Zakki berdoa di Tanah Suci Makkah agar niatnya mendirikan pesantren bisnis terwujud. “Saya ingin membantu. Mereka diantaranya berasal dari keluarga kurang beruntung,” jelasnya.

Begitu pulang dari ibadah haji itu, Muhammad Zakki sedikit demi sedikit mewujudkan niatnya. Pesantren Mukmin Mandiri dan Agrobisnis mulai dibangun 2006 dan menerima santri. Kini 112 santri telah bermukim di pesantren yang lokasinya di tengah perumahan ini. Tahun 2013, pesantren siap menerima santriwati.

Lalu apa latar belakang mendirikan pesantren entrepreneur ini? Muhammad Zakki melihat banyak potensi agrobisnis di Indonesia yang belum dikelola secara baik. Di sisi lain, ia melihat potensi santri sangatlah besar jika diberi bekal bisnis.

“Potensi santri kurang diberdayakan, karena itulah saya ingin mencetak santri menjadi pengusaha. Karena saya pengusaha kopi, ya saya ajari berdagang kopi,”tandasnya. (syc)

Baca Juga Artikel Menarik Lainnya :

Ristya Stefanie, Pebisnis Wedding Muda yang Penuh Kreasi

Selasa, 10 Juli 2012

Masih muda, energik dan senantiasa berkreasi dalam karya. Dialah, Ristya Stefanie (24), pemilik Ristya Stefanie Make Up, Hair, & Wedding.

Ristya Stefanie make up. hair, & wedding adalah nama sebuah bisnis wedding yang didirikan oleh Ristya Stefanie. Usaha ini sudah ditekuni sejak 17 tahun lalu. Ia mengawali dengan usaha make up dan rambut. pada usia 13 tahun, saat masih duduk di bangku SMP. Di usia yang tergolong belia itu, Ristya sudah beberapa kali ikut merias, yang kebanyakan para artis. Namun, demikian ia mengaku belum mendapat honor yang begitu besar.

Awalnya, Ristya hanya menganggap apa yang dilakukan itu hanya sekadar hobi. Namun, lama kelamaan ia menyadari bahwa bakat dan kemampuan yang dimiliki itu tentu saja bisa dikembangkan menjadi sebuah bisnis menjanjikan. Puncaknya, kala dirinya sudah kuliah, kenginan untuk membuka usaha make up makin menjadi-jadi.

Belajar Otodidak
Tak ada yang menyangka ternyata kemampuan make up yang dimiliki Ristya lebih banyak didapat dari belajar sendiri alias otodidak. Kebetulan, selain telah memililiki kegemaran memake up sejak kecil, Ristya juga banyak mendapatkan pengalaman dari orang-orang yang pernah bersinggungan dengannya.

Dengan pengalaman yang makin terasah itulah, Ristya semakin percaya dan yakin bahwa menekuni bisnis pernikahan memberikan prospek yang bagus. “Bisnis pernikahan ini kan salah satu yang tidak akan ada habisnya. Apa salahnya jika kemudian mencoba mengembangkan bakat tersebut ke ranah bisnis,” paparnya soal keseriusannya di bisnis pernikahan ini.

Bagi Ristya, yang terpenting dalam menjalankan usaha wedding adalah kerja keras dan senantiasa berkarya. Karena itulah, agar tetap mendapat tempat di hati pelanggan, Ristya senantiasa berkarya dengan temuan-temuan barunya. “Kebetulan, saya bukan orang yang suka mengikuti trend. Justru, saya berkeinginan apa yang saya karyakan itu bisa menjadi trend tersendiri,” terang alumnus UK Petra ini.

Ini bukan berarti Ristya tidak menyukai trend. Hanya saja, ia tidak ingin larut dalam trend yang ada sehingga cenderung akan membuat dirinya tidak memiliki karakter. Ia menjadikan trend tersebut sebagai modal untuk mengkombinasikan dengan inspirasi-inspirasi yang muncul dari dirinya.

Untuk membuktikan hal itu, dalam waktu dekat ini, Ristya akan mengadakan show tunggal bridal di Royal Plaza dengan hasil karya terbarunya, busana pengantin perpaduan batik dan eropa.

Menurut Ristya, selama ini busana pengantin berbahan batik belum menjadi sebuah trend. Padahal, batik merupakan identitas bangsa indonesia. Karena itulah, inspirasi memadukan batik dan eropa akan menjadi sesuatu yang elegan dengan tetap memunculkan nilai-nilai kebangsaan,


Pelanggan is a Specialy
Dalam menggaet pelanggan, Ristya tak hanya mengandalkan pengalaman dan keahlian saja. Selain menjalin hubungan dengan banyak relasi, ia juga sangat memperhatikan pelanggan yang ditanganinya.

Bagi Ristya, pelanggan adalah segala-segalanya. Ia sangat memperhatikan dengan detail calon pengantin yang sedang ditanganinya mulai dari mata, wajah, dan sebagainya yang terkait dengan persiapan pernikahan. Saking seriusnya terhadap pelanggan, dalam satu bulan, Ristya hanya berani menerima paling banyak 5 pelanggan.

“Kalau terlalu banyak yang ditangani, tentu tidak akan membuahkan hasil yang baik. Saya sengaja membatasi pelanggan, agar mereka (calon pengantin) bisa benar-benar mendapat pelayanan istimewa untuk tampil di hari yang spesial itu. Mereka kan sudah bayar mahal ke kita, jadi kami pun akan memberikan service terbaik yang kami miliki,” terang Ristya seputar prinsipnya itu. (sir)
Baca Juga Artikel Menarik Lainnya :

Marheany Djumadi Sukses dengan Modal Seekor Kambing

Jumat, 06 Juli 2012

Setiap kisah sukses selalu meninggalkan jejak sejarah yang berliku. Demikian juga yang dialami Dr. Drs. H. Marheany Djumadi, SE, MM, MBA. Pria asal Nganjuk yang kini menduduki berbagai posisi strategis ini mengaku hanya bermodal seekor kambing kala berangkat ke Surabaya untuk meretas mimpi. Pria yang bangga sebagai Alumni Bahasa & Sastra Indonesia eks-IKIP Surabaya ini pun berbagi perjalanannya menggapai asanya, dan seperti apa kiatnya menjadi orang sukses?

Marheany Djumadi sebuah nama yang diambil dari kekaguman kedua orang tuanya terhadap nilai-nilai marhaenisme Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia, yang juga bapak proklamator. Marheany menghabiskan masa kecil hingga remaja di Nganjuk, Jawa Timur. Sekolah Dasar Negeri Putren I Nganjuk adalah tempat kali pertama Marheany menempuh jenjang pendidikan dasar. Lulus SD tahun 1980, Marheany melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri I Nganjuk.

Terdorong keinginan agar cepat bekerja, Marheany memilih tidak melanjutkan ke SMA. Ia memilih Sekolah Pendidikan Guru Negeri (SPGN) untuk mengajar anak SD. Karena berprestasi, di SPGN Marheany mendapat beasiswa selama dua tahun. Dari uang beasiswa itulah, anak petani desa ini memutuskan membeli kambing dan memeliharanya hingga lulus tahun 1986.

Hanya menjadi guru SD membuat nasib Marheany tidak banyak berubah. Apalagi penantiannya untuk segera mendapat pengangkatan guru PNS tidak segera terwujud. Akhirnya, dengan segala keterbatasan ia memutuskan kuliah. Ia nekad berangkat ke Surabaya dengan modal uang hasil berjualan satu ekor kambing peliharaannya demi satu cita-cita bisa kuliah di IKIP Surabaya. Jurusan Bahasa Indonesia Diploma Tiga menjadi pilihan Marheany. tahun (D3). Selanjutnya, setelah lulus D3, tahun 1989 Marheany melanjutkan studi S-1 di IKIP Surabaya.

Kelolah Kekuatan & Peluang dari Kemiskinan

Di Surabaya, Marheany tinggal dengan sanak keluarga di daerah Wiyung. Karena keterbatasan ekonomi, perjalanan dari rumah menuju kampus IKIP Surabaya ditempuh Marheany dengan mengayuh sepeda. Terik matahari dan hujan tak menghalangi Marheany untuk berangkat kuliah.

Meski menumpang di rumah saudara yang tidur dan makannya gratis, tak membuat Marheany berdiam diri saja. Karena merasa tak bisa memberi dalam bentuk uang, Marheany ‘membayarnya’ dengan tenaga. Pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, mengepel hingga bantu-bantu memasak dilakukan. “Hanya dengan cara seperti itulah saya bisa membalas budi kebaikan saudara,” ujarnya.

Setiap liburan kuliah, Marheany memutuskan pulang kampung membantu kedua orang tuanya di sawah. Meski berstatus mahasiswa, ia tidak pernah malu melakukan pekerjaan itu. Apalagi hanya itulah, satu-satunya mata pencaharian yang bisa dilakukan orang tuanya. Inilah yang membuat orang-orang di kampungnya salut.

Menginjak semester lima, Marheany mulai nyambi mengajar di Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) Primagama daerah Ngagel. Tak ingin kuliahnya terganggu, Marheany pun memanajemen waktu kuliah dan mengajar. Hasil dari mengajar itu, selain digunakan untuk biaya kuliah dan kehidupan sehari-hari, ia juga menyisihkan sebagian untuk kedua orang tuanya di desa.

Tahun 1989, Marhaen lulus D3 dengan Indeks Prestasi tertinggi sehingga dengan mudah transfer ke jenjang sarjana. Sejak mengajar di Primagama, Marheany memutuskan untuk tidak tinggal di rumah saudaranya melainkan tinggal di Primagama. Di LBB tersebut, Marheany juga tidak berdiam diri saja, ia juga membersihkan ruangan seperti menyapu, bersih-bersih meja, mengepel apapun dilakukannya.

Dari kerja di LBB itu, Marheany bisa membeli sepeda motor. “Saya dulu tidak pernah sungkan harus menjadi tukang bersih-bersih, apapun saya lakukan dengan ikhlas, kalau ada niat pasti ada jalan,” jelasnya.

Berkat kerja keras dan kerja ikhlasnya, nasib baik menghampiri. Ia diangkat menjadi Kepala Cabang Primagama Jember kala ia masih duduk di semester sembilan. Tahun 1991, setelah lulus jenjang S-1,berturut-turut jabatan kepala cabang dipegangnya. “Inilah cara saya mengelolah kekuatan dan peluang dari kemiskinan,” paparnya.

Bangga Pernah Kuliah Bahasa Indonesia

Pilihan di Jurusan Pendidikan Bahasa IKIP Surabaya ternyata membawa berkah bagi sosok Marhaeny Djumadi. Ia mengaku bangga bisa berkuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sebab, ilmu bahasa yang diperolehnya sewaktu kuliah seperti menyimak, membaca, menulis, komukasi dan -lainnya sangat berperan dan menjadi dasar ilmu-ilmu yang diperolehnya sekarang.

Dengan ilmu-ilmu dasar bahasa Indonesia itulah, lanjut Marhaen ia meretas jenjang pendidikan dan membangun karier hingga bisa mencapai sukses seperti saat ini. Karena itu, secara khusus ia berterima kasih kepada para pengampu mata kuliah di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia atas ilmu yang telah diberikan. Ia berharap adik-adik mahasiswa, terutama yang di jurusan Bahasa Indonesia tetap bangga karena dari jurusan ini bisa berkembang ke segala profesi.

Penyayang Keluarga

Karier Marheany terus menanjak. Saat ini, ia menduduki berbagai posisi strategis. Ia tercatat sebagai direktur dan pendiri di berbagai lembaga pendidikan seperti Direktur Pengembangan Bisnis (2000-2003), Pendiri dan Direktur Pengembangan Entrepreneur University (2000-2003), Direktur Eksekutif dan Direktur Pengembangan Bisnis IPIEMS Surabaya (2000- 2006).

Marhaeny juga menjabat berbagai posisi strategis lain. Di antaranya sebagai komisaris utama Lembaga Bahasa Asing di Jogja, Presiden Direktur Indoglobal Group Surabaya, Direktur Utama HRM INDONESIA, dan Presiden Direktur Trans Consulting Surabaya. Bahkan, ia juga tercatat sebagai Ketua Tim Ekonomi RPJP Surabaya dan Ikatan Doktor Ekonomi Indonesia.

Di luas bisnis dan pendidikan, Marhaeny juga berkiprah di bidang sosial kemasyarakatan. Ia menjabat sebagai wakil ketua LPNU Jatim, Dewan Pakar DPP Himpunan Pengusaha Nahdliyin , Ketua Bidang Idiologi, Strategi Politik dan Kaderisasi DPD Taruna Merah Putih Jatim, Dewan Pakar Bidang Ekonomi Megawati Institute Jakarta, Pengurus Dewan Pendidikan Jawa Timur, Koordinator Badan Keswadayaan Masyarakat Kelurahan Sekardangan Kec. Sidoarjo serta Sekretars LPMK Kelurahan Sekardangan.

Tak hanya itu, Marhaeny juga dipercaya sebagai konsultan ahli di beberapa pemerintahan di luar jawa seperti propinsi Gorontalo, Teluk Bintuni, Papua dan Kabupaten Halmahera Maluku Utara. Selain itu, Marhaeny juga aktif di kegiatan ilmiah seperti narasumber tetap bidang pendidikan dan ekonomi, kewirausahaan di stasiun televisi dan radio.

Seabrek posisi dan kegiatan tersebut tidak membuat Marhaeny lupa akan sejarahnya. Ia tidak pernah menyesal atau mengeluh telah dilahirkan dari keluarga dengan ekonomi yang sulit. Justru keadaan seperti itu membuat ia terpacu bekerja keras untuk menggapai kesuksesan. Tempaan hidup yang demikian itu membuat ia menjadi sosok yang pantang menyerah. Sejarah hidup itu pula yang membuat ia sangat peduli terhadap orang-orang dari keluarga tidak mampu. Sebagai wujud kepedulian itulah, saat ini Marhaeny memiliki 12 anak asuh dari keluarga miskin.

Hanya saja, sukses yang didapat saat ini tidak bisa dinikmati kedua orang tua yang sangat dicintainya. “Bapak meninggal dunia saat saya masih duduk di semester 6 di IKIP Surabaya,” kisahnya sedih. (bas)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

- Nama: DR. Drs. H. Marheany. Djumadi, SE, MM, MBA

- Tempat/Tgl lahir: Nganjuk, 15 Desember 1968

- Istri: S. Wahyuni

- Anak: Tiga

Pendidikan:

- D3 IKIP SURABAYA ( Lulus Th. 1989 )

- SI IKIP SURABAYA ( Lulus Th. 1991 )

- SI MANAJEMEN STIE ABI (1996)

- MM STIE ABI SURABAYA (Lulus 2001)

- MBA (DL) GLOBAL INSTITUTE OF MANAGEMENT PROFIDED BY WEST COST INSTITUTE OF -- MANAGEMENT AND THECHNOLOGY, PERT, AUSTRALIA. ( 1999 )

- DOKTOR EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI MALANG ( 2004 )

Pekerjaan:

· Dosen dan Wakil Direktur Pascasarjana STIE ”ABI” Surabaya

· Presdir Indoglobal Group Surabaya

· Komisair Utama Lembaga Bahasa Asing ” Prima Interlingua jogjakarta ”

· Direktur Utama Alma Counsulting Group Surabaya

· Presdir HRM INDONESIA

· Presdir Trans Consulting Surabaya


Baca Juga Artikel Menarik Lainnya :

M. Kris Suyanto JF: Harus Berani Punya Mimpi

Rabu, 06 Juni 2012

M. Kris Suyanto JF adalah satu di antara alumni Unesa yang sukses meretas karier. Alumni Teknik Sipil Eks- IKIP Surabaya ini kini menjadi Presiden Direktur PT Katama Suryabumi, perusahaan konstruksi pemegang lisensi Konstruksi Sarang Laba-laba (KSLL). Apa kunci sukses pria asal Jombang, Jawa Timur ini.

Sejak menjadi mahasiswa IKIP Surabaya, sosok Kris sudah menonjol. Bersama teman-teman Teknik Sipil, pria yang hobi travelling ini sudah bekerja dengan mendirikan Biro Struktur Engineering. Selain itu, ia juga sudah bekerja paro waktu (part time) di PT Moro Sakti Kontraktor dan PT Krida Pratama Konsultan di Surabaya selama 3 tahun.

Perjalanan hidupnya selama di bangku kuliah membuat Kris terbiasa dengan bekerja keras. Tidak hanya itu, tempaan pengalaman semasa menjadi mahasiswa membuat semangatnya untuk berkarya dan berprestasi terus menyala. Kris, adalah sosok kreator yang tidak mudah puas dengan sesuatu yang dihasilkan.

Terdorong keinginan untuk terus berkarya itulah, tahun 1986 pria berkaca mata ini memutuskan hijrah ke Jakarta. Di Jakarta, Kris merasakan betul bagimana ketatnya kompetisi. Kris merasa beruntung. Kompetisi yang ketat itu bukan menjadi penghalang bagi dirinya untuk berkarya. Justru, karya dan ide lahir di tengah kompetisi tersebut. Melalui usaha dan doa, Kris Suyanto mampu berprestasi dan tampil di kancah nasional.

Karier Kris mulai menanjak tatkala ia masuk di PT Dasaguna Konsultan Pondasi Konstruksi Sarang Laba-Laba (KSLL). Awalnya, saat KSLL diperkenalkan ke publik belum bisa diterima secara utuh dan meyakinkan. Ini yang membuat Kris terus berupaya memacu diri melakukan inovasi agar karya anak bangsa ini bisa diterima di negeri sendiri dan mancanegara.

Kerja keras Kris membuahkan hasil. KSLL banyak diminati untuk pondasi bangunan. Kini, lebih dari 1000 bangunan di Indonesia telah menggunakan pondasi KSLL. Di antaranya Terminal Peti Kemas (Container Yard), Bandara Hang Nadim Batam 3 lantai seluas 18.700 m2, Pasaraya Sri Ratu Semarang 8 lantai. Hotel Country Makassar 11 lantai, Gedung Yayasan Universitas '45 Makasar 10 lantai, gedung RS Polri Semarang 7 lantai dan masih banyak lagi.

KSLL telah dipatenkan pada tahun 1976 dengan nomor patent 7191 dan pengembangnnya diperbarui tahun 2004 dengan nomor paten 400030. Lisensi dan sekaligus pelaksana khusus KSLL dipegang oleh PT Katama Suryabumi, dimana Kris Suyanto, alumni Unesa ini menjadi Presiden Direkturnya.

Terapkan Prinsip 5K, 1 B

Sukses Kris Suyanto menapaki karier di perusahaan kontruksi nasional, tentu tidak dicapai dengan mudah dan karbitan. Ia telah melewati berbagai fase hidup dengan bekerja keras dan senantiasa berkarya.

Lantas, seperti apa prinsip hidupnya? Bapak dua anak ini memaparkan enam prinsip yang menjadi sandaran berpikir dan bertindak dalam perjalan hidupnya. Pertama, kerja keras. Sebagai seorang yang meretas jalan dari bawah, ia telah membiasakan diri dengan bekerja keras.

Kedua, kerja cerdas. Baginya, kerja keras yang tidak disertai kerja cerdas akan mengurangi banyak waktu dan tidak akan dihargai banyak orang. “Harus ada sinergi antara otak dan otot untuk mencapai hasil maksimal,” ujar Kris. Ketiga, kreatif. Menurut Kris, apa yang dikerjakan harus unik dan berbeda dari yang lain. “Di sinilah, pentingnya kreativitas dan inovasi,” tandasnya.

Prinsip keempat adalah kerja tuntas atau kerja tekun. Kadangkali, lanjut Kris, banyak pekerjaan yang dikerjakan setengah-setengah. Sehingga, belum tuntas pekerjaan sudah pindah ke pekerjaan lain. “Inilah yang membuat kita tidak bisa mencapai apa yang diinginkan. Apa yang dikerjakan harus tuntas. Karena itu butuh kesabaran,” jelasnya.

Prinsip kelima adalah kerja ikhlas. Kerja ikhlas, terang Kris, bisa memacu seseorang untuk selalu berkreasi. Mengerjakan sesuatu dengan ikhlas akan mengeluarkan ion negatif dan mendatangkan ion positif. Prinsip keenam adalah berani bermimpi. Cita-cita harus dibangun setinggi mungkin. Karena itu, kata Kris, jangan pernah takut bermimpi. “Kita harus berani bermimpi untuk berprestasi,” jelasnya penuh semangat. (Bas)
Baca Juga Artikel Menarik Lainnya :

Metro

Gaya Hidup

Inspirasi

Advertorial

 

© Copyright DARMONEWS.COM 2011 -2012 | Design by Darmo News | Published by Darmo News | Powered by Darmo News.